Hutan Indonesia Memang Makin Sedikit
Beratus-ratus juta hutan Indonesia,hilang 70 % karena ulah manusia.Bentuk kerusakannya bermacam-macam,yang paling utama adalah diakibatkan oleh pembalakan liar.Selain sebagai habitat asli hewan,hutan juga berguna sebagai paru-paru dunia pengatur tata air.Mengurangi hutan berarti berkurangnya pasokan oksigen,bahkan menyebabkan kekeringan saat kemarau dan meningkatkan resiko bencana banjir dan longsor serta intensitas badai.Kebakaran hutan menghasilkan asap yang bikin infeksi saluran pernapasan dan yang paling penting hutan menyerap emisi gas rumah kaca sehingga nggak langsung menyebar ke atmosfer.Berarti kurangnya luas hutan sama saja memperparah perubahan iklim yang mengakibatkan ketahanan pangan sebuah negara terganggu.

Limbah Pencemar Lingkungan
Dunia industri memang berdampak baik bagi ekonomi tapi berdampak negatif pada lingkungan dimana tahun 1955 sampai 1968 dunia dihebohkan kasus teluk Minamata Jepang yang menewaskan banyak korban akibat memakan ikan dari laut yang tercemar merkuri.Analisa Mengenai Dampak Lingkungan juga berusaha meminimalisir dampak negatif industri.Jalan pintas yang diambill oleh pelaku untuk mengatasi limbah juga bukan tanpa sadar.

Sampah Makin Bertambah
Mungkin kita sering tanpa sadar melakukan hal ini.Kota besar memang menitipkan sampahnya di TPA.Di TPA tetep saja ditumpuk dan sampah itu tidak bisa didaur ulang dan menghasilkan gas metan yang memperparah global warming.Sampah yang di sungai juga menyebabkan banjir..Makanya program 3 R digencar-gencarkan yaitu REDUCE,REUSE,RECYCLE.

Upaya yang bisa kita lakukan:
1.Membuang sampah ditempatnya dan menanamkan pada diri kita bahwa memungut sampah itu mulia
2.Mengurangi penggunaan plastik
3.Menghemat kertas
4..Memilih produk yang ramah lingkungan

Upaya kota Yogyakarta dalam mengurangi pencemaran udara

1. Melaksanakan Program Langit Biru sejak tahun 2004.
Program ini bertujuan untuk menciptakan mekanisme kerja yang koordinatif dalam pengendalian pencemaran udara, mengendalikan pencemaran udara, dan mewujudkan perilaku kota Yogyakarta yang cinta lingkungan.

2. Melaksanakan pemantauan lingkungan secara rutin.
Pemantauan ini dilakukan dengan 2 cara, yakni dengan uji udara ambient untuk mengetahui kualitas udara dalam Kota Yogyakarta dan uji emisi untuk kendaraan umum serta pribadi. Jumlah kendaraan yang melakukan uji emisi diharapkan dapat mencapai 1.000 kendaraan per tahun. Jika pengujian berkala ini berfungsi secara efektif maka emisi CO, HC, dan partikulat dapat turun hingga 50%. Selain itu, faktor keselamatan kendaraan juga merupakan manfaat lain yang bisa dipetik. Artinya jika kendaraan dirawat dengan baik maka risiko mengalami kecelakaan pun dapat dikurangi.

3. Menata transportasi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.
Penataan ini terutama dikonsentrasikan pada jalur kawasa Malioboro. Kawasan Malioboro merupakan kawasan utama yang wajib dikunjungi para wisatawan. Tidak mengherankan kalau kawasan ini selalu ramai dari pagi hingga malam hari.

4. Meningkatkan dan memperbanyak jalur-jalur hijau.
Jalur hijau di dalam kota diperbanyak untuk meneka jumlah emisi CO2. Contohnya dengan membuat jalur hijau Malioboro, penghijauan jalan-jalan utama kotam dan pembuatan taman di area pemukiman.

5. Membina kelompok pelajar, mahasiswa, dan masyarakat pecinta lingkungan.
Upaya sadar lingkungan mulai digerakkan sedini mungkin pada anak-anak dan remaja. Salah satu upayanya adalah dengan membentuk serta membina organisasi dan klub pecinta lingkungan Sebut saya Jogja Onthel Community (JOC) dan Youth Clean Air Club (YCAC).